![]() |
| Buku antologi puisi Menertibkan Kenangan karya Rifky Gimnastiar. |
Perjalanan Waktu
Kutitipkan setiamu pada jarum-jarum waktu
Yang mengikis lapisan debu
Mengunggah lukisan haru
Yang mengikis lapisan debu
Mengunggah lukisan haru
*
Di hari Sabtu
Kita merangkul huruf
Membaca kata dalam resah
Kita menelusuri kata
Merekam kerja dalam lelah
*
Menelaah doa
Mengamini hingga senja
*
Lalu, sekarung fajar terbit
Mempersilakan Minggu
Menagih darah
Kita merangkul huruf
Membaca kata dalam resah
Kita menelusuri kata
Merekam kerja dalam lelah
*
Menelaah doa
Mengamini hingga senja
*
Lalu, sekarung fajar terbit
Mempersilakan Minggu
Menagih darah
Menjemput lelah
*
Terkenanglah jejak-jejak langkah
4 Oktober 2020
Dialog
Di sebuah dialog ulat dan lalat
Suara azan mengaung membelah mata
Selepas senja, ada jeda yang tak terbaca
Lalat pergi menepi, menyusuri lorong sepi
Meninggalkan ulat berzikir di ladang mimpi
Apakah salah pengelola sisa menegakkan tiang yang roboh milik tetangga
29 Agustus 2020
Membaca Diri
Malam ini
Aku berjalan pada alam
Menjelajahi tarian dendam
Dibimbing mendung yang riang
Aku menajamkan celuritku
Yang tersimpan rapi di kantong nafsu
*
Waktu itu
Aku ingin sekali berlari-lari kecil
Di antara kedua basah matamu yang resah
Di antara basmalah tubuhmu yang lelah
"Dengan menyebut nama rindu yang maha pengasih lagi maha pengasuh"
Asuh dan asihlah kami sebagaimana
Asuhan-Mu pada bulan sabit
Yang mengerang sakit
Berbulan-bulan menjerit
Dan dahaga rindu bermuara pada-Mu
*
Aku bersembahyang mengaji diri
Melacak huruf pada basmalah
Menanak kata pada lelah
Aku tersenyum kecil saat dicekik selaput mimpi
Bondowoso, 22 April 2021
*) Puisi-puisi ini sudah terbit dalam bentuk buku dengan judul Menertibkan Kenangan (Epilog Media, 2022).
Biodata Penulis
Rifky Gimnastiar lahir ketika Tuhan tersenyum pada Senin dini hari, 17 Maret 2003 di kota penuh romansa, Bondowoso. Yang terkenal dengan "Kota Tanpa Samudera". Berperan sebagai aktor sejak dilahirkan dan tumbuh berkembang sebagai Animal Rasio. Meski kerap kali dihina, namun kaki harus jauh melangkah. Karena baginya, "Kalah itu sakit, namun menyerah itu hina. Perjuangan tak berbicara itu semua".
Editor : Sukron Hidayat
