Gondrong; Merdeka
"Kau gondrong memang boleh, Cak?"
"Indonesia sudah 76 tahun merdeka, sedangkan aku sudah hampir berkepala dua, pastilah meraup kemerdekaan."
“Oh, begitu ya, Cak. Tapi, kemerdekaan bukan hanya soal kebebasan, Cak. Melainkan kebahagiaan yang juga harus tersalurkan.”
“Jika begitu, lalu bagaimana dengan negara ini, apakah selama ini ia hanya bersenang-senang menggerai rambutnya, menikmati kemerdekaan setengah-setengah?”
“Mungkin rambut panjangnya sudah menutupi hatinya, Cak. Iya, bukan hanya mata, tapi juga mata hati, Cak. Sampai kesadaran hilang dari pandangan.”
“Iya, sepertinya memang tak ada tukang cukur yang berani memotong gondrongnya rambut negara. Hingga terurai tak karuan. Menggelikan.”
“Bukan hanya tukang cukur, Cak. Gunting pun tak ada yang mampu memotongnya. Tapi, Cak, sepertinya ada yang mampu dan lebih tajam dari gunting. Memotong tanpa bunyi, memotong di tengah sunyi.”
“Apa itu?”
“Puisi, Cak.”
Bondowoso, 23 Januari 2022
Daun yang Gugur
Di sebuah masjid itu
Seseorang terburu-buru
Di antara ibadah yang ia tunaikan
Sesungguhnya ia berharap dibalas tunai
Tapi ia tak tahu bermesra dengan Tuhan
; yang penting gugur kewajiban
Ia tak sadar bahwa sesungguhnya
di dekat pohon-pohon yang daunnya ia gugurkan
ada sungai mengalir deras yang telah Tuhan suguhkan
tempat ia mencecap segala harap
tempat mandi mencuci duri di dalam diri
yang ia tanam sendiri
Namun, ia keburu pulang
Menemui rumah fananya; dunia
Bondowoso, 4 September 2021
Biodata Penulis
Sukron Hidayat, seorang santri alumni PP Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo, asal Sumber Wringin, Bondowoso. Puisinya pernah dimuat di Majalah Sidogiri. Mulai bersalaman dengan puisi sejak diadakannya Muktamar Sastra 2018 di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo.

Ajib betul
BalasHapusMantabz
Hapus