Uraikanlah bagaimana detik-detik berhargamu berjalan. Sampai di antara kita terlelap. Mungkin saja aku tak bosan mendapati harimu yang begitu kejam. Betapa berharapnya mataku kepada hujan malam ini. Barangkali dingin lirihnya nyaris sama dengan senyumanmu.
Aku tidak menyukai setia, ia seringkali berkhianat tak secara lisan. Namun, kenyataan di hari esoknya. Barang tentu masih panjang perasaan. Perjalanan tanpa berpasangan, sepertinya sehat damai saja kehidupan. Hanya saja ada yang kurang, namun bukan kewajiban.
Jika kau beriman pada takdir, mungkin ini contoh naasnya. Aku tak berbicara pesona atau suatu istimewa yang melekat padamu. Namun, ada sesuatu yang menertibkan kenangan lalu, entah apa.
Kau selalu mampu membuatku jujur, apapun situasinya. Namun tidak dengan satu hal. Keberanianku hilang seketika jika suatu ekspektasiku hanya sekadar fiksi atas reaksimu.
Bukankah kita adalah sepasang orang yang lebih menikmati orang sekitar dengan usaha melampiaskan kesepian namun ditindas dengan perasaan?
Tubuh kita berlumur mimpi kepalsuan. tanganku menari-nari mencari jalan keluar, sementara tanganmu mencegahku dengan diam. Hingga suatu kali waktu kita saling melempar hujatan.
Mana berani aku jatuhkan hati di sebelahmu. Aku, hanya melaksanakan tugas menghibur sekitar. Tapi naas, mereka menganggap peran ini benar-benar serius.
Biar semua ini diulang-ulang sampai benar-benar bosan. Hingga tiba saatnya sadar "waktunya pulang".
Editor : Sukron Hidayat

mantabbbz
ردحذف👍👍👍💪
حذف