Prosa: Misteri


Sekarang yang bisa kulakukan hanya berpura-pura pada diri sendiri bahwa kau masih mencintaiku, karena hanya itulah satu-satunya cara untuk (sedikit) menyembuhkan luka. Bagaimana tidak, aku yang sudah pasrah tenggelam dalam lautan cintamu tiba-tiba kaulempar ke permukaan. Tak bisakah kau bayangkan bagaimana ikan-ikan hidup di daratan? Aku bukan buaya, Dik, yang bisa hidup di dua alam.

Saat itu mudah sekali kau main hakim sendiri, kau hanya berpihak pada diri sendiri tanpa memikirkan bagaimana hati yang saban hari sudah menggantung mimpi-mimpi. Kau katakan bahwa kau takut semakin hari semakin menyakiti hati. Tapi kau tak sadar bahwa apa yang kau pilih lebih dari menyakiti hati. 

Memang benar kata orang-orang jikalau kita berada di alam mimpi tak akan merasakan sakit sedikit pun. Seperti yang kurasakan saat itu. Jangankan dicubit, tangan dipotong pun sepertinya tak akan terasa karena sakit yang sudah membuat kulit jadi mati rasa. Ya, yang kurasakan hari itu memang benar-benar seperti berjalan di alam mimpi, karena ketidakpercayaanku atas pernyataan dan kenyataan yang ada. Keputusan yang tiba-tiba. Ah, sebercanda inikah? 

Aku masih bingung, entah ini memang tentang perasaan atau hanya masalah yang harus diselesaikan. Perlahan aku mencoba menerima dengan keterpaksaan.

Aku tak tahu sampai kapan harus berpura-pura pada diri sendiri. Meski sesekali sadar, bahwa sebenarnya kau sudah benar-benar pergi. Dan luka yang perlahan kubalut pun kembali menganga, dituntun cinta yang tak tahu arah.

Lalu pada suatu waktu kita bertemu. Aku seperti bermimpi dua kali. Sebuah kasih yang kudapati, cinta yang kurasa. Tiba-tiba semuanya seperti tidak ada masalah. Kuikuti saja alurnya. Hingga pada suatu kesempatan aku bertanya, dan ternyata itu hanyalah sebuah drama. Tapi tak apalah, mungkin dengan itu aku bisa mengalirkan cinta. 

Mungkin hanya ini saja, karena cinta adalah misteri yang tak bisa diurai dengan kata-kata dan tak bisa kita duga datang dan perginya.

Bismillahi tawakkaltu 'alallah.

Wallahu a'lam bish-shawab ....


Penulis: Sukron Hidayat

إرسال تعليق

أحدث أقدم

نموذج الاتصال